Rabu, 08 Juni 2016
Ilham Nasution: Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"
Ilham Nasution: Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang": SUDAH dua kali saya menonton film Taare Zameen Par atau Like Star on Earth. Dua kali pula saya menangis. Ini di luar kebiasaan, seb...
Taare Zameen Par, setiap anak adalah "bintang"

Film ini bercerita tentang bocah berusia 8-9 tahun (Darshel) yang
menderita dyslexia. Dia kesulitan mengenal huruf, misalnya sulit
membedakan antara "d" dengan "b" atau "p". Dia juga susah membedakan
suku kata yang bunyinya hampir sama, misalnya "Top" dengan "Pot" atau
"Ring" dengan "Sing". Bukan hanya itu, dia juga sering menulis huruf
secara terbalik. Kondisi ini membuat saya teringat pada masa kecil, di
mana saya juga sering terbalik-balik antara angka 3 dengan huruf m.
Akumulasi dari "kesalahan" tersebut membuatnya tak bisa membaca dan
menulis, nilai-nilai ulangannya selalu buruk. Semua guru di sekolah
mengeluhkan perilakunya; tak pernah fokus saat belajar, tak bisa
membaca, suka membuat ulah. Dan hukuman merupakan menu sehari-hari yang
diterimanya di sekolah. Sang guru dibuatnya kehabisan akal. Bahkan kedua
orang tuanya merasa kehabisan cara dalam mendidik putra bungsunya itu.
Tapi, apakah benar Dharsel yang berperan sebagai Ishaan sedemikian buruknya?
Tidak! Nyatanya dia mempunyai imajinasi yang sangat tinggi. Dia pandai menggambar. Inilah yang tidak disadari oleh orang-orang di sekelilingnya. Bahkan sang ayah yang kerap menyebutnya sebagai "idiot" akhirnya memasukkannya ke sekolah asrama sebagai bentuk hukuman. Keputusan ini diambil karena pihak sekolah berencana mengeluarkan Ishaan di akhir tahun nanti.
Tidak! Nyatanya dia mempunyai imajinasi yang sangat tinggi. Dia pandai menggambar. Inilah yang tidak disadari oleh orang-orang di sekelilingnya. Bahkan sang ayah yang kerap menyebutnya sebagai "idiot" akhirnya memasukkannya ke sekolah asrama sebagai bentuk hukuman. Keputusan ini diambil karena pihak sekolah berencana mengeluarkan Ishaan di akhir tahun nanti.
Di sinilah konflik batin yang mengaduk-ngaduk emosi penonton mulai
terasa. Sejak masuk asrama perilaku Ishaan berubah 180 derajat. Ishaan
yang semua ceria berubah drastis menjadi pendiam dan penakut. Suka
menyendiri. Bahkan untuk menatap dan berbicara dengan orang-orang saja
dia tak berani. Ia seperti punya dunia sendiri yang diliputi dengan
seluruh rasa takut. Di matanya tak ada sedikitpun cahaya optimisme.
Guru-guru di sekolah membuat kondisinya semakin parah. Parahnya Ishaan
juga telah berhenti melukis! Imajinasinya mati.
Praktek Tertib, Disiplin dan Bersaing yang menjadi motto sekolah
ternyata tidak berpengaruh positif pada Ishaan. Yang mereka tahu setiap
peserta didik harus memperoleh nilai bagus untuk semua pelajaran;
Bahasa, Sains, dan Matematika.
Dalam kondisi terburuk itu Amiir Khan (Nikumbh) hadir untuk
menyelematkan Ishaan sebagai guru pengganti bidang Seni di sekolahnya.
Ia mencoba hadir dalam kehidupan Ishaan secara lebih manusiawi. Ia
menghadirkan fakta bahwa banyak orang-orang hebat yang mulanya mengalami
kesulitan yang sama seperti Ishaan. Ada Einstein, Leonardo Da Vinci,
Thomas Alfa Edison, Abisheek Bachchan, bahkan dirinya sendiri.
Nikumbh juga memeriksa semua buku catatan Ishaan. Ia mengajarinya
menulis, membaca, dan berhitung dengan cara yang realistis. Misalnya
dengan naik turun tangga untuk pelajaran berhitung. Ia juga menemui
orang tua Ishaan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada anak
mereka.
Taare Zameen Par merupakan film lama. Film ini dirilis 21 Desember 2007
silam. Artis cilik itu pun kini sudah beranjak remaja. Tapi tema
pendidikan yang diangkat dalam film ini membuatnya selalu relevan dalam
kondisi terkini. Tak pernah basi. Bahkan durasi yang hampir tiga jam itu
tak membuat bosan.
Saya menyarankan para orang tua dan tenaga pendidik untuk menonton film
ini. Lewat film ini para orang tua seolah diingatkan untuk lebih peduli
pada anak-anak mereka. Tidak menuntut anak dengan angka-angka, karena
masing-masing anak punya tingkat inteligensia berbeda. Tidak otoriter.
Tidak membanding-bandingkan. Tidak melabelinya dengan sebutan bodoh,
dungu atau idiot. Ah, sangat tak mungkin semua anak di kelas menjadi
jurasa satu bukan?
Bagian termanis dalam film ini menurut saya ada di bagian akhir, di mana
seluruh murid dan guru mengikuti lomba melukis bersama. Alangkah
konyolnya saat seorang guru lukis hanya bisa menggambar gunung dan
matahari, sementara semua murid dituntut untuk memiliki nilai memuaskan
di setiap mata pelajaran. Film ini mengajarkan kita tentang nilai-nilai
berempati.
Langganan:
Postingan (Atom)